| Jika kita menjauhi Keris, apa Kata Dunia ? |
|
Seringkali dengan mengamati sebilah keris, mampu meredakan ketegangan emosi dan kegundahan hati. Greget, gairah, semangat dan kreativitas bangkit kembali, dan itu kita tidak menyadari bagaimana semua itu bisa terjadi. Demikian diungkapkan oleh Singgih R, SE pemilik Griya Wisata Budaya, Museum dan Galery Keris Kusuma Yogyakarta, yang berada di dusun Krikilan RT 06 RW II Tegaltirto, Berbah Sleman. Fenomena keris di zaman modern, perkembangannya cukup menggembirakan. Peminat dan pemerhati keris mulai bergeser dari sesepuh kepada generasi muda, mahasiswa atau pemuda. Dari pendekatan yoni ke seni, dari ajaran klenik ke inti filosofi dan histori atau dari paranormal ke intelektual. "Dengan adanya pergeseran-pergeseran tersebut diharapkan, keris tetap lestari. Sepanjang diperlakukan secara proporsional, keris sebenarnya cukup menarik sarat dengan nilai-nilai humanisme. "ujar Singgih R yang juga anggota Pametri Wiji (Paheman Memetri Wesi Aji) Yogyakarta. Nilai-nilai humanisme pada keris yakni, Nilai Religi, adanya kepercayaan akan kekuatan manusia. Nilai filosofi adanya keris lajer (lurus) manusia hidup harus punya arah atau tujuan yang jelas. Keris Luk, dalam meraih tujuan hidup, manusia harus luwes tidak sakleg. Nilai histori, ketinggian ilmu pengetahuan dan teknologi tempa besi yang dimiliki peradaban nenek moyang bangsaatau leluhur kita. Nilai ekonomi, koleksi yang semakin lama semakin langka akan semakin tinggi harganya (investasi), juga mengatasi pengangguran bagi perajin perabot keris. Nilai psikologi, pembangkit kepercayaan diri dan semangat keyakinan untuk sukses. |
| < Prev | Next > |
|---|
Briket Batok Kelapa (Coconut Char coal Briquete)
![]() Rp. 4,500 |
Amply / Power CARVER CM-1090 USA [NEGO]
![]() Call for Pricing |
| Show Cart | |
| Keranjang belanja kosong. |
Lihat Semua Produk |
|
|
|
|
| User Login | |
| Kehilangan Password? | |
|
Belum terdaftar?
Register
|
|